jump to navigation

Test Ride The Yellow ke Luar Kota Oktober 10, 2010

Posted by Wong Banyumas in Lifestyle, News.
trackback

CB 100 test ride

Acara kondangan temen kantor akhirnya membawaku berkelana bersama The Yellow. Sebenarnya riding kali ini terjadi gara-gara faktor tidak sengaja. Sebab rencana semula, mau naik bus biar bisa sambil baca buku di perjalanan. Tapi karena sudah kesiangan, akhirnya nekat bawa the Yellow.

Bangun di Minggu pagi selalu menjadi kesulitan tersendiri bagiku. Sebab begitu subuh kelar, mata memang baru bisa terpejam. Karena itu rencana jam 09.00 pagi bersiap ke terminal hanya tinggal rencana. Saat 08.30 bangun, seorang tamu sudah menunggu. Ternyata bendahara RT yang mau menarik iuran bulanan dan dana kurban. Ngobrol ngalor ngidul, baru selesai jam 09.30.

Baru saja selesai mandi, seorang tamu datang lagi. Kali ini temen dari Tasik. Akhirnya ngobrol ngalor ngidul lagi sampai pukul 11.00. Rencana naik bus langsung kubatalkan karena nggak tahan dengan panasnya ruangan bus.

Langsung meluncur ke rumah modifikasi Win’s Paddock buat tukeran motor. Ternyata eh ternyata, malah tutupan. Akhirnya berbekal hati yang tidak terlalu mantap, gas the Yellow langsung ku betot.

Mengantisipasi ndorong, di Sumbang kuisi 2 liter. Bukannya pelit, tapi karena kapasitas tangki emang cuma segitu. Prediksiku, bensin segini paling nggak bisa sampai ke TKP. Setelah itu melesat menyusuri jalanan Sumbang, Kembaran terus ke Sokaraja. Dari sini ambil kiri dan lurus ke arah Purbalingga. Aku memilih jalur lewat Kemangkon dan keluar di sekitar Lanud Tunggul Wulung Wirasaba.

Betapapun kubetot gas, ternyata tetep disalip sama cewek cakep yang pakai Mio baru. Berhubung usia motor jauh lebih uzur, mending ngalah wae lah. Si cewek Mio sesekali melambat, ngeledek kayaknya. Tak salip lagi, terus aku disalipnya lagi. Begitu terus sampai tiga atau empat kali. Yo wis lah, monggo mba, sampeyan duluan saja. Aku nggak nafsu kok (nyalip kamu).

Jalur utama penghubung Banyumas-Banjarnegara via Purbalingga di Klampok sengaja kupilih. Gara-garanya jalur favoritku lewat Rakit katanya rusak parah. Resiko milih jalur utama ini, ya harus siap berebut jalan dengan bus dan mobil pribadi serta truk.

Setelah pantat tepos dan panas minta ampun, akhirnya sampailah di tempat kondangan. 2 jam 15 menit! busyet…lamban banget berarti aku ya. Dengan rumus v = s/t maka kecepatan rata-rataku berarti hanya 80/2.15 = 37.2 km/jam!!!!!… Pantesan…sampai males duduk di joknya….

Berjalan sejauh 80 km, membuat penyakit si Kuning ini kelihatan. Ada bunyi ‘ngirik’ di sektor depan. Tapi nggak ketahuan di sebelah mana pastinya. Trus, kecepatannya ternyata mentok segitu. Soalnya kalo ditarik lagi, getarnya kelewatan. Kayaknya ini Pe Er buat Bro Agung di Tengil’s Speed nich.

Perjalanan kembali kulakukan setelah sholat, makan dan salaman sama pengantinnya. Kali ini mampir dulu di kantor Suara Merdeka. Istirahat sejenak sambil menjadi saksi Tony Elias meraih juara dunia.

Pas jam 14.00 cabut lagi dan memilih rute Karangkobar-Wanadadi-Rakit. Beneran ternyata. Jalur ini banyak sekali dihiasi lubang di kanan-kiri jalan. Nggak pas di tengahnya. Kayaknya pada terkikis air hujan tuh. Beberapa tempat malah sedang mulai diperbaiki. Buntutnya, jadi diterapkan sistem buka tutup. Pak Ogah, ya mesti ada lah….

Perjalanan pulang terasa lebih lama. Dan ternyata bener juga. Sampai di rumah udah jam 16.30 theng..Rasa capek dan kantuk yang tak tertahan akhirnya mengantarkanku ke alam mimpi….

Oya, overall, sebenernya si Yellow ini masih enak dibawa jalan. Minimal nggak takut mati di jalan. Tenaga sebenernya sudah OK, yang masih kurang paling kecepatan puncak (jadi inget Om Agus-bengkel bubut Prijaya- nawarin nyetruk mesin gratis). Riding Possition juga enak. Nggak bikin tangan dan kaki pegal. Cuma shock belakang dan komstir kayaknya mesti diganti.
Note : Foto diperagakan oleh model (Mas Yudi, bagian Pemasaran)

Komentar»

1. BULETIN - Oktober 13, 2010

Pertamaxxx!

2. BULETIN - Oktober 13, 2010

Kedua kah?

3. BULETIN - Oktober 13, 2010

Sekalian ketiganya tak ambil!

Wong Banyumas - Oktober 17, 2010

Jiaaahhhh…diborong BULETIN….

4. Maskur® - Oktober 13, 2010

kang UUng tak masukkan ke KOBOYS ya

Wong Banyumas - Oktober 14, 2010

siap komandan….!!!!

5. Kurniaprorider - Oktober 13, 2010

Salam kenal

Wong Banyumas - Oktober 14, 2010

salam kenal juga mas bro….

6. one08 - Oktober 14, 2010

mantap…. !!!
tambah sedulur anyar kie!😉

Wong Banyumas - Oktober 14, 2010

waaaahhhh…ada bro senior…Lagi ngimpi punya motorized bicycle nich mas bro. Sayang belum nemu yang mau bikinin…Nek digowo mBantul, adoh tenaannnn…

7. asmarantaka - Oktober 16, 2010

wah yg naik mio minta dijak kenlan itu..xixiix:mrgreen:

8. tafridefraaz - Oktober 16, 2010

wihihihihihi motor tua tambah mantep,
CB-CB nek sore2 pada ngebut2an nang sokaraja…

9. dhuwurs - Oktober 16, 2010

cakramnya PSM yah,,?? lam kenal bro…

Wong Banyumas - Oktober 16, 2010

hi..hi..hi..teliti banget mas bro. Lam kenal juga lah yaw…

10. Kopdar Banyumas II, We Are Big « Learning To Life - Oktober 18, 2010

[…] masih agak bingung, namun berpatokan pada motor berwarna kuning yang pernah diulas di artikel ini, dengan PD-nya saya parkir di depan “bengkel tanpa nama” […]

11. Si Kuning Yang Menggetarkan « Learning To Live - Oktober 19, 2010

[…] yang sama dialami pemilik asli Si Kuning, seperti yang dia ceritakan di Kisah Curhatnya. Berikut saya kutip salah satu paragraf dari sana: Betapapun kubetot gas, ternyata tetep disalip […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: